Pertanyaan terbesar bagi profesi akuntansi hari ini bukan lagi apakah kecerdasan buatan akan masuk ke ruang kerja mereka, melainkan seberapa cepat para profesional mampu mengendalikannya. Singapura memilih menjawabnya melalui skala besar: 60.000 tenaga akuntansi dan keuangan akan mendapat pelatihan AI gratis dalam tiga tahun ke depan. Mereka menjadi kelompok awal dari target nasional yang lebih luas, yakni mencetak 100.000 pekerja non-teknologi yang fasih memakai AI sesuai bidang masing-masing pada 2029.
Program bernama AIxAccountancy itu diumumkan dalam rangkaian agenda nasional penguatan literasi AI. Inisiatif ini digerakkan oleh Infocomm Media Development Authority bersama Institute of Singapore Chartered Accountants. Peserta akan memulai dari fondasi penggunaan alat AI populer seperti ChatGPT, Claude, dan Copilot. Setelah itu, materi bergerak ke penerapan yang lebih spesifik: audit, perpajakan, akuntansi, keuangan, penganggaran, peramalan, serta analisis bisnis. Artinya, AI tidak diperlakukan sebagai tren tambahan, tetapi sebagai perangkat kerja inti.
Mengapa ini penting? Karena pekerjaan rutin di sektor akuntansi sedang berubah cepat. Deteksi kecurangan yang dahulu bergantung pada pemeriksaan manual kini dapat diautomasi. Data mentah laporan keuangan dapat diolah menjadi temuan audit. Perhitungan pajak dapat dibantu model AI. Bahkan chatbot akuntansi khusus dapat dibangun untuk menjawab kebutuhan internal perusahaan. Bila kemampuan ini hanya dimiliki pekerja teknologi, maka akuntan berisiko menjadi pengguna pasif. Singapura tampaknya ingin menghindari skenario itu: profesional domain harus mampu memahami, menilai, dan mengarahkan AI.
Menteri Kedua Keuangan dan Pembangunan Nasional Indranee Rajah menilai program ini krusial karena perubahan AI berlangsung sangat cepat. Menurutnya, inisiatif tersebut memungkinkan profesional akuntansi bergerak melampaui pekerjaan berulang, lalu memusatkan waktu pada penilaian, analisis, dan pengambilan keputusan. Di sinilah nilai profesi akuntansi tetap bertahan: bukan sekadar memasukkan angka, melainkan membaca risiko, menguji kewajaran, dan memberi nasihat berbasis konteks. Kursus daring juga dirancang fleksibel agar dapat diikuti pekerja yang memiliki komitmen profesional dan pribadi.
Ada pula dimensi lain yang bergerak paralel: keberlanjutan. Pada hari yang sama, daftar kursus di bawah program SkillsFuture Green Workplace mulai tersedia, dengan fokus awal pada pelaporan keberlanjutan. Biayanya disubsidi hingga 90 persen melalui kurasi bersama otoritas terkait. Pelaporan keberlanjutan mencakup pengungkapan kinerja dan dampak lingkungan, sosial, serta tata kelola. Dorongan ini tidak terlepas dari meningkatnya tuntutan investor, regulator, dan mitra rantai pasok terhadap laporan ESG yang lebih kredibel. Dengan kata lain, akuntan masa depan dituntut membaca dua bahasa sekaligus: data keuangan dan data keberlanjutan.
Setelah menyelesaikan AIxAccountancy, peserta akan memperoleh sertifikat dan lencana digital yang dapat diverifikasi, tahan manipulasi, serta dapat dibagikan di platform profesional seperti LinkedIn. Bagi mereka yang berada atau akan masuk ke posisi manajemen, tersedia modul lanjutan mengenai adopsi AI yang bertanggung jawab dan transformasi AI di tingkat perusahaan. Minat awal sudah besar: sebelum peluncuran, lebih dari 20.000 orang dari sektor publik, swasta, termasuk mahasiswa perguruan tinggi, telah menyatakan ketertarikan. Program ini gratis bagi warga negara dan penduduk tetap Singapura yang bekerja di akuntansi dan keuangan, anggota ISCA, serta mahasiswa institusi pendidikan tinggi lokal.
Contoh kebutuhan praktis sudah terlihat di perusahaan jasa profesional PKF-CAP. Sekitar 250 karyawannya berminat mengikuti program ini. Mereka telah memakai alat seperti Microsoft Copilot Cowork untuk tugas administratif, termasuk menyusun draf surel klien. Teknologi itu juga digunakan untuk membaca angka dari laporan keuangan klien dan menghasilkan laporan yang menandai tren tidak biasa, misalnya dalam merger dan akuisisi. Direktur pelaksana Lee Eng Kian menyebut volume data besar dapat membuat proses memakan waktu dan mengurangi fokus, terutama ketika jumlah laporan dalam satu audit bertambah. Harapannya, pelatihan ini membuat pekerja mampu memanfaatkan agen AI secara lebih mandiri, tanpa instruksi terus-menerus. Pertanyaan berikutnya: apakah profesi akuntansi akan kehilangan pekerjaan rutin, atau justru memperoleh ruang baru untuk penilaian yang lebih bernilai? Jawabannya bergantung pada seberapa cepat pelatihan seperti ini diterjemahkan menjadi perubahan cara kerja nyata.
Perencana Keuangan dengan 8 tahun pengalaman di pasar modal Indonesia. Fokus membantu pemula memahami reksa dana, saham IDX, dan obligasi ritel. Pendiri komunitas @FinansialPintarID.