Beranda/Artikel/BI Rate 5,75% dan Obligasi Negara 2026: Strategi Investasi Pendapatan Tetap
Investasi

BI Rate 5,75% dan Obligasi Negara 2026: Strategi Investasi Pendapatan Tetap

BI Rate masih 5,75% di Juli 2026. Simak strategi investasi obligasi negara dan reksa dana pendapatan tetap untuk hasil optimal. Panduan praktis untuk pemula.

Rizki Pratama
Rizki Pratama
31 Juli 2026 · 2 min read
0 pembaca
BI Rate 5,75% dan Obligasi Negara 2026: Strategi Investasi Pendapatan Tetap

Penafian: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan merupakan saran investasi personal. Selalu konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat sebelum mengambil keputusan investasi.

Kebijakan BI Rate 5,75% Masih Bertahan

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75% pada RDG Juli 2026. Keputusan ini diambil seiring inflasi inti yang terkendali di kisaran 2,5% serta stabilitas nilai tukar rupiah. BI Rate yang bertahan di level tinggi sejak akhir 2025 memberikan angin segar bagi investor instrumen pendapatan tetap seperti obligasi dan reksa dana pasar uang.

Dampak BI Rate pada Harga Obligasi

Hubungan BI Rate dan harga obligasi bersifat terbalik: saat suku bunga tinggi, harga obligasi turun. Namun untuk investor yang membeli obligasi negara seri FR (Fixed Rate) tenor pendek (2-5 tahun), dampak penurunan harga relatif lebih kecil dibanding tenor panjang. Yield SBN tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 7,1%-7,3%, menarik dibandingkan deposito yang rata-rata hanya 4,5%-5%.

Obligasi Negara yang Tersedia di 2026

Pemerintah melalui Kemenkeu menerbitkan beberapa seri obligasi yang bisa dibeli investor ritel:

  • SBN Ritel (ORI, FR, SBR) — Minimal investasi Rp1 juta, kupon kompetitif 6,5%-7,2% per tahun.
  • ST (Sukuk Tabungan) — Berbasis syariah, imbal hasil hingga 6,8% per tahun.
  • Obligasi Korporasi BBB-rated — Yield lebih tinggi (8-10%) namun risikonya lebih besar.

Pembelian bisa dilakukan melalui mitra distribusi (midis) seperti Bank Mandiri, BCA, BRI, atau platform fintech seperti Bibit, Ajaib, dan Bareksa.

Reksa Dana Pendapatan Tetap vs Obligasi Langsung

Untuk pemula dengan modal di bawah Rp10 juta, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) lebih praktis karena dikelola manajer investasi profesional. Beberapa RDPT terbaik 2026 mencatat return year-to-date 4-6% dengan tingkat volatilitas rendah. Untuk investor yang lebih paham, membeli obligasi negara langsung memberikan kepastian kupon dan tanpa biaya pengelolaan tahunan.

Simulasi Investasi

Dengan modal Rp10 juta di SBN FR seri 5 tahun (kupon 7%): pendapatan kupon per tahun = Rp700.000 atau ~Rp58.000 per bulan. Bandingkan dengan deposito 5% yang hanya menghasilkan Rp500.000 per tahun. Selisih Rp200.000 mungkin terlihat kecil, tapi dalam 5 tahun total selisih mencapai Rp1 juta sebelum pajak.

Strategi Barbell untuk 2026

Strategi populer di kalangan investor obligasi: alokasikan 70% di obligasi jangka pendek (1-3 tahun) untuk likuiditas dan 30% di obligasi jangka panjang (7-10 tahun) untuk yield lebih tinggi. Di tengah ketidakpastian arah BI Rate, strategi ini memberikan keseimbangan antara keamanan dan imbal hasil optimal.

Kesimpulan: BI Rate 5,75% membuat obligasi negara semakin atraktif dibanding deposito. Investor pemula bisa mulai lewat RDPT atau langsung membeli SBN ritel melalui platform digital. Pilih tenor sesuai profil risiko dan kebutuhan likuiditas Anda.

Ditulis oleh Rizki Pratama, CFP® — Perencana keuangan bersertifikat dan praktisi pasar modal sejak 2017.

#BI Rate# obligasi negara# SBN# reksa dana pendapatan tetap# ORI# SBR# investasi pendapatan tetap
Suka artikelnya?
Rizki Pratama
Tentang penulis
Rizki Pratama

Perencana Keuangan dengan 8 tahun pengalaman di pasar modal Indonesia. Fokus membantu pemula memahami reksa dana, saham IDX, dan obligasi ritel. Pendiri komunitas @FinansialPintarID.

Semua artikel dari Rizki Pratama

Bacaan terkait

Jelajahi semua

Artikel Terkait