Prabowo Usul Atap Ijuk-Rumbai: Klaim Seng dan Risiko Kanker Paru Perlu Dibaca Hati-hati
Pernyataan Prabowo Subianto soal atap rumah berbahan ijuk dan rumbai memantik perhatian publik. Gagasan itu muncul dalam konteks pembahasan hunian, lingkungan tropis, serta kebutuhan bahan bangunan yang lebih sejuk, lokal, dan sesuai karakter wilayah. Namun sorotan terbesar justru tertuju pada klaim bahwa atap seng dapat menyebabkan kanker paru-paru. Klaim kesehatan seperti ini perlu dipisahkan dari pesan arsitekturalnya: memakai material tradisional bisa relevan, tetapi hubungan langsung antara seng dan kanker paru memerlukan pembuktian medis yang lebih ketat.
Secara teknis, seng lazim dipakai sebagai atap karena murah, ringan, mudah dipasang, kuat terhadap hujan, dan tersedia luas. Di banyak daerah, terutama kawasan padat, pesisir, dan perdesaan, seng menjadi pilihan rasional karena biaya konstruksi rendah. Masalah utamanya bukan semata “seng” sebagai logam, melainkan kondisi hunian yang menyertainya: panas berlebih, ventilasi buruk, kelembapan tinggi, asap dapur, debu, paparan bahan kimia tertentu, serta kualitas udara dalam ruang. Atap seng dapat meningkatkan suhu dalam rumah bila tanpa plafon, insulasi, lubang udara, atau rancangan sirkulasi silang. Panas ekstrem dan udara pengap dapat memperburuk kenyamanan, produktivitas, dehidrasi, gangguan tidur, serta keluhan pernapasan pada kelompok rentan, tetapi itu berbeda dari kesimpulan langsung bahwa seng menyebabkan kanker paru.
Dalam ilmu kesehatan, kanker paru-paru paling kuat dikaitkan dengan merokok aktif, paparan asap rokok pasif, polusi udara, radon, asbes, silika, emisi industri, pembakaran biomassa di ruang tertutup, serta riwayat pekerjaan tertentu. Seng sebagai material atap tidak dikenal sebagai penyebab utama kanker paru pada penggunaan rumah tangga normal. Risiko dapat muncul pada konteks berbeda, misalnya pekerja yang menghirup asap pengelasan logam, debu industri, atau partikel berbahaya dari proses produksi dan pemotongan tanpa pelindung. Karena itu, bila klaim “atap seng membuat kanker paru” dipahami sebagai hubungan sebab-akibat langsung bagi penghuni rumah, klaim tersebut perlu verifikasi dan tidak dapat diterima begitu saja tanpa data epidemiologis, dosis paparan, mekanisme biologis, serta pembanding faktor risiko lain.
Meski demikian, kritik terhadap penggunaan seng tetap punya landasan dari sisi kenyamanan termal dan mutu permukiman. Rumah beratap seng tanpa peredam panas sering terasa sangat panas pada siang hari dan bising saat hujan deras. Kondisi ini dapat membuat penghuni menutup ventilasi, memakai kipas terus-menerus, atau beraktivitas dalam ruang yang tidak sehat. Solusinya bukan sekadar mengganti semua seng, melainkan memperbaiki desain: memasang plafon, menambah lapisan insulasi, membuat ventilasi atas, memperlebar teritisan, menanam pohon peneduh, memakai warna atap terang, serta memastikan dapur memiliki cerobong atau bukaan memadai. Dengan pendekatan tersebut, risiko kesehatan tidak dibesar-besarkan, tetapi kualitas hunian tetap ditingkatkan.
Usul penggunaan ijuk dan rumbai menarik karena merujuk pada pengetahuan lokal. Ijuk, rumbia, alang-alang, dan material nabati lain telah lama dipakai dalam arsitektur tradisional Nusantara. Keunggulannya: lebih sejuk, ringan, menyatu dengan lanskap, punya nilai budaya, serta dapat mendukung ekonomi lokal bila rantai pasoknya dikelola baik. Pada rumah adat, material ini biasanya dipadukan dengan kemiringan atap curam, ventilasi alami, kolong rumah, dan orientasi bangunan yang peka iklim. Artinya, keunggulan ijuk-rumbai bukan hanya pada bahannya, tetapi pada sistem arsitektur utuh. Bila hanya mengganti seng dengan rumbai tanpa memperhatikan daya tahan, standar kebakaran, perawatan, hama, ketersediaan bahan, dan biaya pemeliharaan, hasilnya belum tentu efektif.
Konteks kebijakan publik juga penting. Bila pemerintah ingin mendorong kembali material lokal, perlu standar teknis, pelatihan tukang, sertifikasi kualitas, riset ketahanan cuaca, serta skema bantuan renovasi rumah layak huni. Ijuk dan rumbai cocok untuk wilayah tertentu, terutama kawasan wisata budaya, desa adat, bangunan komunitas, atau rumah tropis berdesain baik. Namun untuk kawasan padat perkotaan, risiko kebakaran, jarak antarrumah, tata ruang, dan akses pemadam harus dihitung ketat. Di sisi lain, revitalisasi fasilitas publik seperti stasiun dapat menjadi contoh bagaimana desain tropis dipadukan dengan material modern dan lokal: teduh, berventilasi, hemat energi, ramah pejalan kaki, serta tidak mengorbankan keselamatan. Gagasan estetika tradisional dapat hadir melalui bentuk atap, kisi-kisi, kanopi, lanskap, dan ruang terbuka, bukan semata pemakaian material organik secara literal.
Perdebatan ini akhirnya menunjukkan pentingnya komunikasi pejabat publik yang presisi. Pernyataan tentang kesehatan harus berbasis bukti agar tidak menimbulkan salah paham, kepanikan, atau stigma terhadap warga yang memakai atap seng karena keterbatasan ekonomi. Pesan yang lebih tepat ialah: hunian beratap seng perlu dirancang agar tidak panas dan pengap; material tradisional seperti ijuk dan rumbai dapat menjadi alternatif di lokasi yang sesuai; faktor risiko kanker paru harus dilihat dari paparan utama seperti rokok, polusi, asbes, dan asap pembakaran. Dengan demikian, diskusi publik bergerak dari kontroversi menuju solusi: rumah lebih sehat, arsitektur lebih kontekstual, serta kebijakan perumahan yang menghormati ilmu pengetahuan dan kearifan lokal.
Sumber: Kompas.com — Prabowo Usul Atap Rumah Pakai Ijuk dan Rumbai, Sebut Seng Bikin Kanker Paru-paru. Artikel ini diolah ulang untuk keperluan edukasi/informasi; fakta inti wajib diverifikasi ke sumber asli.
