Beranda/Artikel/Akankah Akuntan Singapura Jadi Pelopor AI?
Teknologi

Akankah Akuntan Singapura Jadi Pelopor AI?

Singapura melatih 60.000 profesional akuntansi dan keuangan menggunakan AI secara gratis melalui AIxAccountancy, bagian dari target nasional mencetak 100.000 pekerja fasih AI pada 2029. Inisiatif ini penting karena profesi akuntansi sedang bergeser dari pekerjaan rutin menuju analisis, tata kelola, dan pengambilan keputusan bernilai tinggi.

Rizki Pratama
Rizki Pratama
5 Juli 2026 · 7 min read
0 pembaca
Akankah Akuntan Singapura Jadi Pelopor AI?

Akankah Akuntan Singapura Menjadi Pengguna AI Arus Utama Berikutnya?

Gelombang kecerdasan buatan tidak lagi hanya bergerak di laboratorium teknologi, perusahaan rintisan, atau divisi rekayasa perangkat lunak. Di Singapura, perhatian kini bergeser ke profesi yang selama ini bertumpu pada ketelitian, kepatuhan, dan penilaian profesional: akuntansi dan keuangan. Melalui program nasional AIxAccountancy, sebanyak 60.000 profesional akuntansi dan keuangan akan mendapat pelatihan gratis untuk menggunakan perangkat AI dalam pekerjaan sehari-hari, mulai dari deteksi kecurangan, analisis data audit, penyusunan proyeksi, hingga pengembangan chatbot akuntansi yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.

Program tersebut menjadi bagian awal dari dorongan nasional yang lebih besar, yakni mencetak 100.000 pekerja yang fasih menggunakan AI dalam bidang masing-masing pada 2029. Inisiatif ini dijalankan di bawah National AI Impact Programme, dengan Infocomm Media Development Authority bekerja sama dengan Institute of Singapore Chartered Accountants sebagai salah satu mitra profesi. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan masuk ke ruang kerja akuntan, melainkan seberapa cepat profesi ini mampu mengubah cara kerja tanpa kehilangan unsur utama yang membuatnya bernilai: pertimbangan, integritas, dan kemampuan membaca konteks bisnis.

Dari Otomatisasi Tugas Rutin ke Analisis Bernilai Tinggi

AIxAccountancy dirancang dalam dua tahap. Pada tahap pertama, peserta akan membangun fondasi penggunaan perangkat AI populer seperti ChatGPT, Claude, dan Copilot. Tahap ini penting karena banyak profesional non-teknologi membutuhkan pemahaman praktis, bukan sekadar istilah teknis. Mereka perlu mengetahui cara memberi instruksi, memeriksa keluaran, mengenali batasan sistem, serta menggunakan AI secara aman dalam konteks data keuangan yang sensitif.

Tahap berikutnya lebih spesifik: peserta akan belajar menerapkan AI sesuai peran di bidang akuntansi, keuangan, audit, perpajakan, serta disiplin terkait. Materinya mencakup pembuatan alat AI untuk mendeteksi kecurangan, menghitung pajak, membantu penyusunan anggaran, membuat prakiraan, dan mendukung analisis bisnis. Dengan kata lain, pelatihan ini tidak berhenti pada kemampuan menggunakan chatbot umum, tetapi mendorong peserta memahami bagaimana AI dapat dibentuk menjadi alat kerja yang relevan dengan proses profesional.

Menteri Kedua Keuangan dan Pembangunan Nasional Singapura, Indranee Rajah, menilai program ini penting karena perubahan AI berlangsung sangat cepat. Dalam pandangannya, inisiatif tersebut dapat membantu akuntan bergerak melampaui pekerjaan rutin dan lebih fokus pada tugas yang membutuhkan penilaian, analisis, serta pengambilan keputusan. Pernyataan ini menegaskan arah transformasi yang sedang dibangun: AI bukan semata-mata pengganti tenaga manusia, tetapi alat untuk menggeser bobot pekerjaan dari pemrosesan manual menuju interpretasi dan nasihat strategis.

Mengapa Profesi Akuntansi Menjadi Sasaran Awal?

Akuntansi merupakan salah satu bidang yang sangat cocok untuk adopsi AI karena pekerjaannya kaya data, berulang, memiliki pola, tetapi tetap membutuhkan pengawasan manusia. Audit, misalnya, sering melibatkan pemeriksaan dokumen dan laporan dalam jumlah besar. AI dapat membantu menyaring anomali, menandai transaksi tidak biasa, atau menarik ringkasan dari data mentah. Namun keputusan akhir tetap membutuhkan profesional yang memahami standar audit, risiko bisnis, dan konteks klien.

Di sinilah alasan strategis program nasional tersebut menjadi jelas. Singapura tidak hanya ingin meningkatkan produktivitas perorangan, tetapi juga memperkuat daya saing sektor jasa profesionalnya. Jika kantor akuntan, perusahaan keuangan, dan tim audit internal mampu menggunakan AI secara bertanggung jawab, mereka berpeluang memberikan layanan lebih cepat, lebih tajam, dan lebih bernilai bagi klien. Sebaliknya, tanpa pelatihan yang luas, adopsi AI dapat menjadi tidak merata: sebagian perusahaan maju pesat, sementara sebagian lain tertinggal karena kurang akses, kurang pemahaman, atau takut pada risiko.

Respons awal menunjukkan permintaan yang kuat. Sebelum peluncuran resmi, lebih dari 20.000 individu dari sektor publik dan swasta, termasuk mahasiswa perguruan tinggi, telah menyatakan minat pada AIxAccountancy. Fakta ini menunjukkan bahwa kecemasan terhadap AI tidak selalu berujung pada penolakan. Banyak pekerja justru melihat pelatihan sebagai cara untuk tetap relevan, terutama ketika perangkat AI mulai hadir dalam sistem kantor, perangkat produktivitas, dan proses analisis keuangan.

Gratis, Fleksibel, dan Dapat Diverifikasi

Program AIxAccountancy akan diberikan secara gratis kepada warga Singapura dan penduduk tetap yang bekerja di bidang akuntansi dan keuangan, anggota ISCA, serta mahasiswa institut pendidikan tinggi lokal. Model daringnya dirancang agar sesuai dengan jadwal profesional yang sibuk, termasuk mereka yang harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan pengembangan kompetensi. Setelah menyelesaikan kursus, peserta akan menerima sertifikat serta lencana digital yang dapat diverifikasi dan tahan manipulasi sebagai bukti kecakapan AI bagi pemberi kerja. Lencana tersebut juga dapat dibagikan di platform profesional seperti LinkedIn.

Unsur verifikasi ini tidak kecil artinya. Di tengah membanjirnya kursus AI dan klaim kemampuan digital, pemberi kerja membutuhkan sinyal yang lebih tepercaya. Sertifikat dan lencana digital dapat membantu perusahaan memetakan talenta, menugaskan proyek, dan menyusun rencana transformasi internal. Untuk profesional, bukti kompetensi ini dapat menjadi modal karier, terutama ketika posisi manajerial mulai menuntut pemahaman bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana teknologi mengubah proses pengambilan keputusan.

Setelah tahap dasar dan penerapan peran, profesional akuntansi yang berada dalam jalur manajemen atau berencana masuk ke posisi tersebut dapat mengambil modul lanjutan. Modul itu berfokus pada kepemimpinan adopsi AI yang bertanggung jawab serta transformasi AI di tingkat perusahaan. Ini menandakan bahwa agenda Singapura tidak berhenti pada pelatihan pengguna individual. Negara tersebut juga berupaya membentuk pemimpin yang mampu mengelola perubahan, menetapkan tata kelola, mengurangi risiko, dan memastikan AI digunakan secara etis dalam organisasi.

Kasus Nyata: Dari Surat Klien hingga Analisis Merger

Minat dari dunia usaha sudah tampak. Sekitar 250 karyawan perusahaan jasa profesional PKF-CAP termasuk di antara pihak yang tertarik mengikuti program ini. Perusahaan tersebut telah menggunakan perangkat seperti agen Microsoft Copilot Cowork untuk tugas administratif, termasuk menyusun draf surat elektronik kepada klien. Lebih jauh lagi, agen tersebut juga digunakan untuk mengolah angka dari laporan keuangan klien dan menghasilkan laporan yang menyoroti tren tidak biasa, termasuk dalam situasi merger dan akuisisi.

Direktur pelaksana PKF-CAP, Lee Eng Kian, menggambarkan tantangan yang lazim dihadapi auditor: semakin banyak data, semakin besar risiko kehilangan fokus. Kompleksitas bertambah ketika jumlah laporan yang harus diperiksa dalam satu audit meningkat. Dalam konteks ini, AI dapat berperan sebagai penyaring awal yang mempercepat identifikasi pola, sementara manusia mempertahankan kendali atas interpretasi dan keputusan. Perusahaan berharap pelatihan nasional tersebut membantu pekerjanya memanfaatkan agen AI secara lebih mandiri, bukan hanya sebagai alat yang menunggu instruksi berulang.

Namun justru di titik ini muncul pertanyaan penting: bagaimana memastikan penggunaan AI tidak melemahkan akuntabilitas? Dalam profesi akuntansi, kesalahan analisis dapat berdampak pada keputusan investasi, kepatuhan pajak, laporan publik, dan kepercayaan pasar. Karena itu, pelatihan yang baik harus mencakup keterampilan memeriksa keluaran AI, memahami bias, menjaga kerahasiaan data, dan menetapkan batas penggunaan. AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi kecepatan tanpa tata kelola dapat menciptakan risiko baru.

Dimensi Lain: Keberlanjutan dan Tuntutan ESG

Pada saat yang sama, Singapura juga memperluas pengembangan kompetensi di bidang keberlanjutan. Daftar kursus di bawah program SkillsFuture Green Workplace mulai tersedia pada 3 Juli, dengan fokus awal pada pelaporan keberlanjutan. Biaya kursus yang dikurasi bersama Accounting and Corporate Regulatory Authority serta Skills and Workforce Development Agency akan disubsidi hingga 90 persen. Pelaporan keberlanjutan mengacu pada pengungkapan kinerja dan dampak lingkungan, sosial, serta tata kelola organisasi.

Langkah ini terkait erat dengan perubahan ekspektasi pasar. Investor, regulator, dan mitra rantai pasok di kawasan semakin menuntut laporan keberlanjutan yang berkualitas dan kredibel. Bagi akuntan, ini membuka medan kerja baru: bukan hanya menyajikan angka finansial, tetapi juga membantu organisasi mengukur, memverifikasi, dan melaporkan dampak non-keuangan. Jika kemampuan AI digabungkan dengan pemahaman ESG, profesi akuntansi dapat memainkan peran lebih besar dalam membangun transparansi korporasi.

Gabungan pelatihan AI dan keberlanjutan memperlihatkan arah kebijakan tenaga kerja Singapura: bukan sekadar menambah kursus, melainkan menyiapkan profesi inti untuk menghadapi dua tekanan besar sekaligus, yaitu digitalisasi dan tuntutan tanggung jawab korporasi. Bagi negara yang mengandalkan sektor jasa bernilai tinggi, kemampuan memperbarui keterampilan profesional menjadi bagian dari strategi ekonomi. Bagi individu, ini menjadi peringatan bahwa reputasi masa lalu tidak cukup; kompetensi harus terus dibuktikan dalam bentuk yang dapat diukur.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Dalam tiga tahun ke depan, keberhasilan AIxAccountancy akan diukur bukan hanya dari jumlah peserta, tetapi dari perubahan nyata di tempat kerja. Apakah audit menjadi lebih tajam? Apakah analisis pajak lebih efisien? Apakah perusahaan kecil dan menengah ikut memperoleh manfaat, atau hanya firma besar yang mampu menerjemahkan pelatihan menjadi transformasi sistemik? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan apakah program ini menjadi sekadar kampanye literasi digital atau benar-benar menjadi penggerak produktivitas nasional.

Yang jelas, Singapura sedang membuat taruhan kebijakan yang menarik: membekali profesional non-teknologi dengan kemampuan AI sebelum disrupsi menjadi terlalu dalam. Untuk akuntan dan pekerja keuangan, pesan yang muncul cukup tegas. Nilai masa depan bukan lagi terletak pada kemampuan mengerjakan tugas rutin paling cepat, melainkan pada kemampuan menggunakan mesin untuk menemukan wawasan, menguji asumsi, menjaga kepatuhan, dan memberi penilaian yang dapat dipercaya. Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan: siapa yang akan memimpin perubahan ini, dan siapa yang hanya akan mengikuti setelah standar baru terbentuk?

#akuntansi ai#singapura#pelatihan ai#aixaccountancy#audit keuangan#otomatisasi akuntansi#profesi akuntan
Suka artikelnya?
Rizki Pratama
Tentang penulis
Rizki Pratama

Perencana Keuangan dengan 8 tahun pengalaman di pasar modal Indonesia. Fokus membantu pemula memahami reksa dana, saham IDX, dan obligasi ritel. Pendiri komunitas @FinansialPintarID.

Semua artikel dari Rizki Pratama →

Bacaan terkait

Jelajahi semua

Artikel Terkait