Bayangkan sebuah toko membuka penjualan barang populer pada pukul 10 pagi. Namun, ketika pembeli umum tiba, sebagian barang terbaik sudah lebih dahulu diambil oleh kelompok tertentu yang mendapat akses lebih awal. Gambaran sederhana ini membantu menjelaskan perdebatan mengenai penjualan VIP atau priority booking dalam peluncuran kondominium baru di Singapura. Praktik ini tidak otomatis melanggar aturan, tetapi mulai dipertanyakan karena dapat memengaruhi pilihan pembeli biasa, terutama ketika agen properti sendiri ikut membeli unit sebelum hari pemesanan publik.
Dewan Agen Properti Singapura, atau Council for Estate Agencies (CEA), diketahui telah berdiskusi dengan sejumlah agensi properti mengenai praktik penjualan prioritas pada proyek hunian privat baru. Fokus pembahasan bukan semata-mata melarang akses VIP, melainkan memastikan dua hal penting: pembeli umum tidak dirugikan, serta agen yang membeli unit pada proyek yang mereka pasarkan mematuhi kewajiban pengungkapan informasi. Dalam konteks pasar properti, pengungkapan ini penting karena agen memiliki akses informasi, jaringan, dan posisi yang berbeda dari pembeli biasa.
Penjualan VIP adalah mekanisme ketika pengembang memberi kesempatan kepada kelompok pembeli tertentu untuk memilih dan memesan unit sebelum hari pemesanan publik. Kelompok ini dapat mencakup kerabat, rekan bisnis, pelanggan loyal, pembeli beberapa unit sekaligus, atau dalam beberapa kasus, agen properti. Dalam praktiknya, sebelum publik masuk ke ruang penjualan utama, sejumlah unit sudah ditandai sebagai terjual atau dipesan. Pada hari peluncuran resmi, papan penjualan kemudian menunjukkan unit mana yang masih tersedia dan mana yang sudah diambil pada tahap lebih awal.
Dari sudut pandang pengembang, sistem ini memiliki alasan komersial. Peluncuran proyek besar membutuhkan pengaturan antrean, penjadwalan, strategi harga, serta pengelolaan risiko. Jika sebagian unit dapat terjual lebih awal, pengembang memperoleh sinyal permintaan pasar yang lebih kuat, mengurangi risiko persediaan tidak terserap, dan menekan biaya pemasaran. Namun, dari sudut pandang pembeli umum, persoalannya berbeda. Mereka mungkin telah mempelajari denah, membandingkan harga, dan menyiapkan pembiayaan, tetapi baru mengetahui pada hari pemesanan bahwa unit incaran sudah tidak tersedia.
Perhatian publik meningkat setelah laporan media menyebut bahwa agen properti membeli hingga sekitar 20 persen unit pada beberapa peluncuran kondominium baru melalui jalur prioritas. Pada proyek Emerald of Katong yang diluncurkan pada November 2024 oleh Sim Lian, misalnya, agen dilaporkan membeli 173 dari 846 unit yang tersedia, atau sekitar seperlima proyek. Secara lebih luas, antara September 2024 dan Oktober 2025, agen properti disebut membeli 635 unit melalui antrean prioritas, setara sekitar 4,2 persen dari seluruh hunian privat baru yang diluncurkan pada periode tersebut. Angka ini belum mencakup seluruh bentuk penjualan awal lain kepada pembeli terpilih, sehingga porsi akses dini dapat saja lebih besar.
Isu utamanya bukan hanya jumlah unit yang dibeli, melainkan potensi benturan kepentingan. Agen properti memiliki peran profesional untuk membantu klien memahami produk, membandingkan pilihan, serta mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan finansial. Jika agen yang sama juga membeli unit pada proyek tersebut, muncul pertanyaan: apakah informasi yang dimiliki digunakan secara adil? Apakah klien diberi tahu bahwa agennya memiliki kepentingan pribadi? Apakah pilihan unit untuk publik menjadi lebih terbatas karena orang dalam industri memperoleh akses lebih dahulu?
CEA menyatakan bahwa akses prioritas merupakan keputusan komersial privat pengembang dan tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku. Namun, lembaga tersebut juga secara rutin berdialog dengan agensi dan pemangku kepentingan industri untuk menerima masukan, terutama setelah muncul umpan balik publik mengenai praktik penjualan di peluncuran kondominium baru. Artinya, meskipun praktiknya legal, standar transparansi dan profesionalisme tetap menjadi perhatian regulator.
Beberapa agensi besar memberikan tanggapan berbeda terkait keterlibatan CEA. OrangeTee menyebut adanya pembahasan mengenai perlindungan bagi pembeli umum dan kepatuhan agen terhadap protokol pengungkapan. Huttons Asia menyatakan dialog tersebut menjadi kesempatan untuk bertukar pandangan mengenai transparansi, profesionalisme, dan kepercayaan publik terhadap pasar properti. Sementara itu, PropNex dan ERA Singapore menyatakan bahwa CEA tidak melakukan pembahasan dengan mereka mengenai hal tersebut. PropNex juga menekankan bahwa akses prioritas bagi tenaga penjualan umumnya bergantung sepenuhnya pada kebijakan pengembang dan merupakan praktik yang dapat terjadi di pasar.
Bagi pemula, dampaknya dapat dipahami melalui analogi kursi di bioskop. Jika sebagian kursi terbaik sudah dipesan sebelum loket dibuka untuk umum, penonton reguler tetap bisa menonton, tetapi pilihannya lebih sedikit. Dalam peluncuran kondominium, “kursi terbaik” bisa berarti unit dengan harga lebih rendah, orientasi lebih menarik, lantai tertentu, ukuran paling diminati, atau kombinasi harga dan tata ruang yang dianggap optimal. Ketika unit seperti itu sudah dibeli dalam tahap prioritas, pembeli umum mungkin merasa harus mengambil keputusan cepat atas unit tersisa.
Beberapa agen yang dikutip secara anonim menilai bahwa daftar VIP kadang dapat menjadi sangat panjang dan kurang ketat. Hal ini dianggap tidak adil karena pembeli reguler baru mengetahui keterbatasan pilihan pada hari pemesanan. Ada pula pandangan bahwa papan penjualan yang menunjukkan banyak unit sudah terjual dapat menciptakan efek fear of missing out, yaitu rasa takut tertinggal. Ketika pembeli melihat penjualan tampak sangat cepat, mereka mungkin merasa terdesak untuk segera membeli, meskipun belum sepenuhnya menimbang lokasi, harga, pinjaman, biaya tambahan, atau rencana jangka panjang.
Beberapa agensi menyatakan telah menerapkan pengamanan untuk mengelola benturan kepentingan nyata maupun yang dipersepsikan. Salah satu langkah penting adalah pengungkapan tertulis wajib ketika agen membeli unit pada proyek yang ikut mereka pasarkan. Pengungkapan ini berfungsi seperti lampu penanda: klien dan pihak terkait mengetahui bahwa agen memiliki kepentingan pribadi, sehingga potensi konflik dapat dinilai secara lebih terbuka.
Selain itu, sistem pemesanan modern menggunakan undian digital terpusat dan sistem antrean elektronik. Sistem seperti ini dapat membantu mencegah manipulasi manual, lompatan antrean, penanggalan mundur, atau pemblokiran unit tanpa otorisasi. Namun, teknologi hanya menyelesaikan sebagian masalah. Pertanyaan yang lebih mendasar tetap berkaitan dengan siapa yang boleh masuk daftar prioritas, seberapa besar porsinya, kapan informasi diberikan kepada publik, dan apakah pembeli umum masih memiliki pilihan unit yang bermakna saat peluncuran resmi dimulai.
Beberapa proyek dapat menerapkan prioritas dengan kriteria yang lebih spesifik. Untuk Lentor Gardens Residences, misalnya, prioritas disebut dapat diberikan kepada pembeli beberapa unit yang memiliki hubungan tingkat pertama yang dapat dibuktikan, seperti ibu dan anak yang masing-masing membeli satu unit. Untuk Dunearn House, akses prioritas dapat diberikan kepada pembeli beberapa unit serta pelanggan loyal yang sebelumnya pernah membeli dari pengembang. Frasers Property, salah satu pengembang bersama Dunearn House, menyatakan bahwa pengaturan prioritas dapat menjadi bagian dari perencanaan sebelum peluncuran publik, dengan tujuan mendukung proses penjualan yang tertib sambil tetap memastikan calon pembeli memiliki pilihan unit yang bermakna pada fase publik.
Bagi pembeli, pelajaran praktisnya jelas. Pertama, tanyakan sejak awal apakah proyek memiliki tahap VIP, penjualan prioritas, atau pemesanan awal. Kedua, mintalah informasi mengenai unit yang sudah tidak tersedia sebelum hari publik. Ketiga, jangan hanya terpaku pada satu unit; siapkan beberapa alternatif berdasarkan anggaran, ukuran, lantai, orientasi, dan tujuan pembelian. Keempat, pahami bahwa tanda “banyak terjual” tidak selalu berarti setiap unit tersisa buruk, tetapi juga tidak boleh menjadi satu-satunya alasan untuk membeli. Keputusan properti seharusnya berbasis kebutuhan, kemampuan pembayaran, prospek lokasi, dan kecocokan jangka panjang.
Pada akhirnya, penjualan VIP dalam peluncuran kondominium berada di persimpangan antara efisiensi bisnis dan keadilan pasar. Pengembang membutuhkan proses yang tertib dan risiko yang terkendali, sementara pembeli umum membutuhkan akses informasi yang jelas serta kesempatan yang wajar. Ketika agen properti ikut menjadi pembeli, standar transparansi harus lebih tinggi karena profesi mereka bergantung pada kepercayaan. Tanpa keterbukaan, praktik yang sah secara aturan dapat tetap menimbulkan persepsi tidak adil. Dengan pengungkapan yang tegas, kriteria prioritas yang jelas, dan sistem pemesanan yang dapat diaudit, pasar dapat bergerak lebih profesional tanpa mengorbankan keyakinan publik.
Perencana Keuangan dengan 8 tahun pengalaman di pasar modal Indonesia. Fokus membantu pemula memahami reksa dana, saham IDX, dan obligasi ritel. Pendiri komunitas @FinansialPintarID.